Kamis, 23 Mei 2019

RASUL MENANGIS KETIKA MENERIMA WAHYU TENTANG ILMU PENGETAHUAN

BAG 2

2. Pergantian Siang Dan Malam Hari
Kini kita mulai bisa memahami kenapa Rasulullah menangis ketika
diingatkan Allah tentang penciptaan Langit dan Bumi. Lantas,
bagaimanakah dengan “pergantian siang dan malam hari”? Saya jadi
teringat firman Allah di dalam ayat berikut ini.
QS. Al Qashas (28) : 71-72.
“Katakan: terangkan kepadaku jika Allah Menjadikan untukmu malam
terus sampai hari kiamat, siapa Tuhan selain Allah yang akan
mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kami tidak
mendengar?”
“‘Katakan.’ terangkan kepadaku jika Allah merjadikan untukmu siang
terus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan
mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka
apakah kamu tidak memperhatikan?”
Bisakah kita menjawab pertanyaan Allah ini? Atau, setidak tidaknya
inginkah kita memberikan jawaban atas pertanyaan: “apa jadinya kalau
bumi ini mengalami siang terus atau malam terus sampai hari kiamat ?”
Saya kira ini sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik untuk
dianalisis.
Marilah kita cermati :
Misalkan saja kita ambil kondisi Aceh. Suhu pada umumnya
pagi hari di Aceh, berkisar di bawah 30 derajat Celsius.
Ketika siang mulai menjelang, maka suhu beranjak di atas 30 derajat.
Dan puncaknya pada jam 12 siang sampai jam 14 siang, suhu udara bisa
mencapai 33-34 derajat, atau bahkan lebih.
Pernahkah kita memperhatikan aspal jalan raya Aceh pada siang
hari. Di permukaannya terlihat mengepul uap tipis, dan aspalnya
menjadi lembek. Diperkirakan panas permukaan jalan raya itu di atas
50 derajat. Kalau disiramkan air di sana, tak berapa lama kemudian
air itu akan menguap, dan jalanan itu pun kering kembali.
Kita lihat contoh di atas. Hanya dalam kurun waktu setengah hari
saja, panas udara dan permukaan bumi bisa mengalami peningkatan suhu
yang demikian tinggi. Apa jadinya kalau matahari tidak bergeser ke
arah barat, tetapi tetap berada di atas kita terus-menerus?
Diperkirakan, dalam waktu 100 jam, air di permukaan bumi akan mulai,
mendidih, dan banyak yang mulai menguap. Dan kemudian apa yang
terjadi 100 jam berikutnya? Diperkirakan seluruh air di muka bumi
sudah habis menguap, dan darah di tubuh kita pun ikut mendidih,
Dengan kata lain, tidak ada kehidupan yang tahan di bumi yang hanya
punya siang terus-menerus!
Lho, jadi tidak perlu menunggu sampai hari kiamat seperti retorika
Allah dalam. firmanNya tersebut di atas? Ya, begitulah, cukup dengan
200 jam saja!
Sebenarnya Allah sudah tahu secara pasti bahwa seluruh kehidupan di
muka bumi ini akan mengalami kemusnahan kalau di bumi hanya ada siang
terus-menerus. Akan tetapi, Allah mempertanyakan kepada kita, dengan
maksud untuk memancing perhatian kita. Dan kemudian memahami betapa
besar kasih sayang Allah yang dicurahkan untuk kita semua …
Sebaliknya, apakah yang terjadi jika Allah hanya menciptakan malam
terus di bumi? Cobalah lihat suhu udara di daerah padang pasir,
sebutlah di Arab Saudi. Pada keadaan normal, siang hari di sana bisa
mencapai 50 derajat celsius, sedangkan malam hari bisa mencapai 14
derajat. Puncaknya adalah antara jam 12 malam sampai sekitar 2 dini
hari.
Apakah yang terjadi dalam kurun waktu 100 jam setelah suhu terendah
itu? Jika, matahari tidak pernah muncul lagi, alias malam terus, maka
dalam kurun waktu itu suhu akan terus-menerus turun hingga mencapai 0
derajat, dimana air akan mulai membeku. Dan ketika diteruskan sampai
100 jam berikutnya, maka seluruh air di muka bumi akan membeku,
termasuk cairan tubuh kita!
Jadi, sungguh sangatlah dahsyat dampak dari pergantian siang dan
malam hari. Sebuah rutinitas yang tidak semua kita pernah
memikirkannya. Karena itu Allah memancing kita untuk memahami. Apakah
tujuan utamanya? Tak lain, agar kita sadar bahwa di balik terjadinya
rutinitas pergantian siang dan malam hari itu terdapat sesuatu yang
luar biasa yang berkait dengan Sebuah Kekuatan Besar yang
mengendalikan alam sekitar kita, yaitu Sang Maha Perkasa.
Bahkan, kalau kita lihat lebih jauh.tentang pergerakan matahari,
dampaknya bukan hanya pada pergantian siang dan malam hari saja.
Pergerakan matahari sebenarnya ditentukan oleh dua hal : yang pertama
oleh perputaran bumi pada porosnya atau pada dirinya sendiri. Dan
yang kedua disebabkan oleh perputaran bumi pada orbitnya, yaitu
perputaran bumi mehgelilingi matahari.
Perputaran bumi pada dirinya sendiri disebut juga Rotasi bumi. Sekali
berputar, bumi membutuhkan waktu 24 jam. Inilah yang disebut sehari
semalam. Akan tetapi jika kita amati lebih jauh, lamanya malam dan
lamanya siang selalu bergeser-geser. Kadang lebih panjang malamnya.
Kadang lebih panjang siangnya. Kenapa bisa demikian? Ini disebabkan
oleh pergerakan bumi mengelilingi matahari, yang juga disebut
Revolusi Bumi.
Satu kali revolusi bumi membutuhkan waktu 3651/4 hari. Atau disebut
juga sebagai waktu setahun.
QS. Luqman (31):29
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan
malam kepada siang dan memasukkan siang kepada malam, dan Dia
tundukkan matabari dan bulan masing-masing berjalan sampai waktu yang
ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”
Efek dari pergerakan bumi mengelilingi matahari ini adalah terjadinya
musim di permukaan bumi. Kita lihat, di negara-negara tropis terjadi
musim hujan dan musim kemarau. Sedangkan di negara-negara sub tropis
terjadi musim Salju, musim Semi, musim Panas dan musim Gugur.
Kehidupan manusia di muka bumi menjadi demikian indah dan dinamis.
Pergerakan musim ini juga menyebabkan terjadinya waktu panen dan
berbuah yang berbeda-beda. Di sekitar musim kemarau misalnya
bermunculanlah buah-buah yang mengandung banyak air seperti Mangga,
Belimbing, Melon, Semangka, Jeruk, dan lain sebagainya. Sedangkan di
sekitar musim Hujan banyak buah-buahan seperti Durian, Apokat, Salak,
Nangka, dan lain sebagainya. Semua buah-buahan itu bermanfaat bagi
kehidupan dan kesehatan manusia, sesuai dengan musimnya.
3. Tanda-Tanda Kebesaran Allah
Saya kira semua sependapat, bahwa Allah tidak bisa kita lihat, tidak
bisa kita dengar, atau kita observasi dengan seluruh panca indera
kita. Kenapa demikian? Ya, karena panca indera kita sangat terbatas
kemampuannya.
Jangankan melihat Allah, melihat matahari saja mata kita akan
langsung buta! Jangankan mendengar Allah, mendengar ledakan petasan
di dekat telinga saja, kita akan tuli. Jadi begitu lemahnya panca
indera kita. Maka, jangan berharap kita bisa `bertemu’ Allah dengan
menggunakan panca indera kita. Allah hanya bisa kita `lihat’
sekaligus kita `dengar dan rasakan’ hanya dengan hati atau
kalbu. `Penglihatan’ dengan hati ini akan kita bahas di bagian lain.
Lantas apa yang bisa kita perbuat dengan panca indera berkaitan
dengan pendekatan kita kepada Allah? Yang bisa kita observasi lewat
panca indera dan akal kita hanyalah `tanda-tandaNya’ atau dalam
bahasa Al Quran disebut `ayat-ayatNya’.
Suatu ketika, nabi Musa as pernah ingin melihat Allah, agar hatinya
semakin yakin. Allah sudah mengatakan bahwa Musa tidak akan mampu
melihat Allah. Tetapi beliau ‘ngotot’ untuk bisa melihatNya. Maka,
Allah pun memenuhi keinginan nabi Musa.
Tapi apa yang terjadi? Allah baru menampak kan cahayaNya saja, gunung
Sinai tempat berpijak nabi Musa mengalami gempa vulkanik yang luar
biasa dahsyat. Sehingga Musa pun terpental dan pingsan. Setelah
siuman, beliau baru menyadari bahwa manusia tidak mungkin melihat
Allah dengan panca inderanya. Jangankan manusia, alam semesta pun
tidak mampu menerima Eksistensi Dzat Yang maha Besar dan Maha Agung
itu.
QS. Al A’raaf : 143
“Dan ketika Musa datang untuk (bermunajat kepada Kami) pada waktu
yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya,
berkatalah Musa .. Ya Tuhanku, nampakkanlah (DiriMu) kepadaku agar
aku dapat melibatMu. Tuhan berfirman : Kamu sama sekali tidak akan
mampu melibatKu, tapi lihatlah bukit itu, jika ia tetap di tempatnya,
maka kamu akan mampu melihatKu. Ketika Tuhan menampakkan Diri kepada
gunung itu, maka hancurlah gunung itu, dan Musa pun pingsan. Maka
setelah Musa sadar kembali, dia berkata : Maha Suci Engkau, aku
bertaubat kepadaMu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
QS. Asy Syuura : 51
“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata
dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir,
atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan
kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendak. Sesungguhnya Dia
Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”
Jadi, manusia demikian hinanya di hadapan Allah. Kalau manusia
ingin berkenalan dengan Allah, itu bisa dilakukan melalui `tanda
tanda’ yang tersebar di alam semesta dan termaktub di dalam Al Quran.
Yang pertama disebut sebagai Ayat Kauni dan yang kedua disebut
sebagai Ayat Qurani.
Kedua-duanya berfungsi sama, yaitu menuntun kita
untuk lebih memahami Allah, mengenalNya, berinteraksi, dan lantas
kembali : menyatu dengan Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Agung.
Apakah bentuk tanda-tanda itu? Kalau yang berada di dalam Al Quran,
kita bisa langsung membacanya. Kemudian menganalisisnya sesuai dengan
ilmu bahasa dan tafsir. Akan tetapi, sebagaimana telah saya sampaikan
sebelumnya, bahwa penafsiran Quran dari sisi bahasa saia tidaklah
cukup untuk mengenal Allah. Kita harus memadukannya dengan ayat-ayat
yang tersebar di alam semesta.
Coba bayangkan bagaimana kita bisa memahami langit yang tujuh,
misalnya, kalau kita tidak belajar ilmu Astronomi. Atau, bagaimana
pula kita bisa beriman kepada hari kiamat, kalau kita tidak memahami
mekanisme kiamat tersebut dari data-data empirik ilmu pengetahuan.
Dan, bagaimana juga kita bisa menafsirkan QS. Al Ma’arij : 4, Yang
bercerita tentang relativitas waktu malaikat dan manusia, kalau kita
tidak belajar rumus-rumus relativitasnya Einstein, dst. Begitu
banyaknya ayat-ayat Allah di dalam Al Quran yang tidak bisa kita
pahami, tanpa memadukannya dengan data-data ilmu pengetahuan modern.
Selain melakukan pendekatan lewat ayat-ayat Quran, kita juga bisa
langsung mengobservasi ayat-ayat tersebut dari ayat Kauniah yang
tersebar di seantero alam ini. Hal inilah yang dilakukan oleh nabi
Ibrahim, ketika mencari Tuhan. Akhirnya beliau bertemu dengan Allah
setelah bereksperimen secara trial and error, seperti digambarkan
Allah berikut.
QS Al An’aam : 76-79
“Ketika malam telah menjadi gelap dia melibat sebuab bintang (lalu)
dia berkata : Injah Tuhanku. Tapi tatkala bintang itu tenggelam, dia
berkata aku tidak suka kepada yang tenggelam.
“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata : Inilah
Tuhanku. Tapi setelah bulan itu terbenam dia berkata : Sesungguhnya
jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk
orang orang yang sesat.”
“Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata : Inilah
Tuhanku, ini yang lebih besar. Maka tatkala matahari itu telah
terbenam, dia berkata hai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari
apa yang kamu persekutukan.”
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku
bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuban.”
Bayangkan beliau, yang rasul kesayangan Allah itu, pernah mengira
bahwa bintang, bulan, dan matahari adalah Tuhan. Meskipun, akhirnya
beliau menemukan bahwa semua itu hanyalah ciptaanNya belaka. Tetapi,
beliau sempat melakukan kekeliruan-kekeliruan dalam mencari Tuhan.
Tidak langsung final, ketemu. Tidak apa-apa. Semua ada prosesnya.
Yang penting konsisten dan serius mencari Allah, Insya Allah Dia akan
membimbing hambaNya yang ingin bertemu denganNya.
Betapa banyaknya para ilmuwan yang bertemu Tuhan karena melihat
kedahsyatan ilmu Allah di alam semesta. Bayangkan misalnya, bagaimana
kita tidak `terperangah’ melihat jantung yang ada di dalam dada kita
terus berdenyut tanpa ada baterainya, sejak di dalam rahim pada bulan
pertama. Ini sebuah keganjilan, bagi orang-orang yang mau berpikir.
Ketika bayi masih di dalam rahim, paru-parunya juga belum bekerja. la
mendapat makanan dari sang ibu lewat ari-arinya (plasenta). Tapi,
begitu lahir, si bayi ini kemudian ditepuk-tepuk oleh si bidan, dan
akhirnya paru dan jantungnya bekerja. Kerja jantung dan paru itu
terus terjadi tak pernah berhenti sepanjang usianya. Ini sungguh
sebuah `fenomena’ yang sangat dahsyat menyangkut kehidupan manusia,
yang bisa membawa kita untuk berkenalan dengan Sang Maha Pencipta.
Atau pernahkah kita berpikir, kenapa bumi ini terus berputar pada
porosnya? Darimanakah perintah untuk berputar itu datang? Dan dari
mana pulahkah energi yang digunakan untuk berputar terus selama
miliaran tahun itu? Apakah Anda menangkap keganjilan ini.
Padahal kalau bumi ini tidak berputar (berotasi) pada porosnya, di
bumi ini tidak akan terjadi kehidupan. Ya, karena di bagian yang
menghadap matahari akan terjadi siang terus-menerus. Sedangkan yang
membelakangi matahari akan terjadi malam terus. Apa akibatnya, sudah
kita bahas di bagian sebelumnya.
Kita melihat ada sebuah campur tangan yang luar biasa dahsyat, untuk
memutar bumi selama miliaran tahun. Besarnya energi pemutar itu, tak
akan pernah terbayangkan oleh pikiran kita. Apalagi selama kurun
waktu miliaran tahun. Kalau seandainya, semua batubara, minyak, bahan
bakar nuklir, dan seluruh sumber enemaka sudah bisa dipastikan tidak akan
mencukupi!
Padahal kita tahu, bukan hanya bumi yang berputar atau berotasi.
Bulan juga berputar; selain pada dirinya sendiri, ia juga
mengelilingi bumi. Bumi mengelilingi matahari. Matahari berputar juga
mengelilingi pusat galaksi. Dan seluruh galaksi yang jumlahnya
miliaran itu, juga berputar putar mengelilingi pusat Superkluster dan
alam semesta. Subbanallaah, betapa besarnya kekuatan yang terlibat
dalam pergerakan benda benda di jagad raya ini!
QS. Ar Ra’du (13) : 2
“Allah lah yang meninggikan langit tanpa tiang, yang kamu lihat,
kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan
bulan. Masing-masing beredar bingga waktu yang ditentukan. Allah
mengatur urusan, menjelaskan tanda-tanda, agar kamu meyakini
pertemuan dengan Tuhanmu”
Kembali kepada tanda-tanda kebesaranNya, masih demikian banyak tanda-
tanda Kebesaran Allah di alam semesta ini yang bisa kita
jadikan `Jalan’ untuk lebih mengenalNya. Bahkan jumlahnya tak
berhingga.
Di pepohonan yang sedang berbuah dan bermekaran bunganya, terdapat
tanda-tanda Kebesaran Allah. Di atmosfer bumi yang memayungi kita
dari ancaman meteor-meteor, juga terserak ayat-ayat Allah. Di
miliaran jenis binatang laut, darat dan udara yang begitu indah juga
terdapat bukti-bukti kebesaranNya.
Bahkan, di sekujur tubuh kita : di setiap tarikan nafas kita, di
aliran darah dan denyut jantung, di rambut, di mata, telinga dan
seluruh panca indera, sampai kepada bisikan hati yang paling dalam.
Semuanya memberikan tanda-tanda Kebesaran Allah kepada orang-orang
yang mau berpikir. Tak akan pernah selesai kita tuliskan, meskipun
menggunakan tinta dari tujuh lautan, seperti difirmankan Allah…
QS. Luqmaan (31) : 27
“Dan Seandainya pohon-pohon di bumi Menjadi Pena dan laut (menjadi
tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya,
niscaya tidak akan habis habisnya (dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

                                                                                                                           BERSAMBUNG....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar