Kamis, 23 Mei 2019

RASUL MENANGIS KETIKA MENERIMA WAHYU TENTANG ILMU PENGETAHUAN

BAG 3


4. Selalu Berpikir Tentang Allah.
Kata kunci Yang berikutnya dalam memahami QS. Ali Imran : 190-191
adalah `selalu berpikir tentang Allah’. Penggalan kalimat ini juga
sangatlah mendalam. Lagi-lagi Allah ingin mengajak kita untuk
berinteraksi denganNya.
Bayangkan firman yang disampaikan Allah dalam ayat
tersebut : “…yaitu orang-orang yang selalu berpikir dalam keadaan
berdiri, duduk, dan berbaring, ia selalu memikirkan tentang kejadian
langit dan bumi… ”
Seakan-akan Dia ingin mengatakan kepada kita bahwa kunci kedekatan
seorang Hamba dengan Tuhannya, salah satunya, adalah selalu berpikir
tentang Allah, lewat ayat-ayatNya yang terserak di seluruh penjuru
alam ini. Nabi Ibrahim melakukan itu sepanjang hayatnya. Nabi Musa
juga. Demikian pula nabi Muhammad, sejak beliau berada di Gua Hira’
sampai akhir hayatnya.
Berpikir adalah salah satu kunci kedekatan kita dengan Allah. Ini
menunjukkan bahwa Allah sangat menghargai pikiran kita. Orang yang
tidak berpikir dan tidak menggunakan akalnya, termasuk golongan yang
dimurkai Allah.
QS. Yunus (10) : 100
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan
Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak
mempergunakan akalnya.”
QS. Al Baqarah (2)
“Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kebendaki, Dan
barangsiapa yang dianugerahi, al hikmah itu, ia benar-benar telah
dianugerahi karunia yang banyak Dan hanya orang-orang yang berakallah
yang dapat mengambil pelajaran.”
Kita juga tahu, bahwa agama ini memang diperuntukkan bagi makhluk
yang berakal. Sebagai contoh tumbuhan dan binatang, yang tidak
berakal, tidak dikenai kewajiban beragama. Demikian pula, manusia
yang dalam keadaan pingsan, mabuk, gila, atau mati suri dimana
akalnya tidak jalan juga tidak dikenai kewajiban beragama. Sangat
jelas bahwa agama hanya cocok untuk makhluk yang berakal.
Karena itu, Allah juga secara tersirat maupun tersurat, menegaskan
bahwa kita harus berpikir untuk menjalani agama ini. Apalagi
untuk `bertemu’ dengan Allah.
Nah, dalarn ayat tersebut bahkan dikatakan tidak cukup berpikir hanya
kadang-kadang saja. Berpikir harus total, sepanjang waktu kita. Baik
dalam keadaan sedang berdiri, duduk, tidur tiduran, dan apa pun
aktifitas kita. Semuanya harus diorientasikan kepada Allah. Itu kalau
kita ingin bertemu dengan Nya.
Apakah esensi dari aktifitas berpikir yang seperti itu? Intinya, kita
harus menghubungkan setiap aktifitas kita apa pun bentuknya, semata-
mata Lillaahi Ta’ala. Tidak ada tujuan lain dalam hidup kita kecuali
untukNya. Mulai dari bangun tidur, shalat Subuh, olahraga pagi,
sarapan, bekerja, istirahat, belanja, dan seterusnya sampai kita
tidur kernbali, harus berorientasi kepada Allah. Bahkan tidur itu
sendiri, harus berorientasi kepada Allah.
Ada sebuah kisah menarik pada jaman Rasulullah. Pada suatu ketika,
Rasulullah shalat berjamaah dengan para sahabat. Usai shalat
berjamaah, ada sahabat yang masih melanjutkan dengan shalat-shalat
sunnah, dan ada pula yang berbaring melepas lelah kemudian tertidur
di serambi masjid.
Tiba tiba saja, Rasulullah melihat ada setan masuk ke dalam masjid.
Apa yang dilakukan setan itu? Ternyata ia mencoba mengganggu orang
yang sedang shalat. Kemudian, oleh Rasulullah setan itu ditangkapnya.
Beliau mengumpulkan beberapa sahabat, dan menjelaskan bahwa ada setan
yang tertangkap karena sedang mencoba menggoda sahabat yang sedang
shalat.
Di hadapan para sahabat, Rasulullah bertanya kepada si setan : kenapa
ia mengganggu orang yang sedang shalat. Apakah ia tidak takut, Dan
kenapa tidak mengganggu orang yang sedang tidur?
Apa. jawab si setan? la mengatakan: bahwa ia justru takut untuk
mengganggu orang yang tertidur itu, karena si orang yang sedang tidur
hatinya sedang berdzikir kepada Allah. Sedangkan orang yang shalat
itu, hatinya tidak khusyuk. Bahkan teringat segala macam aktivitas
keduniaannya …
Kenapa berpikir menjadi kunci dari keberhasilan proses pendekatan
kita kepada Allah? Tidak bisakah kita tanpa berpikir lantas bisa
dekat dengan Allah?
Rasanya sulit untuk mengatakan bahwa tanpa berpikir manusia bisa
mendekatkan diri kepada Allah. Allah sendiri berulang-ulang
mengatakan di dalam Al Quran bahwa manusia harus berpikir, dan Dia
sangat menghargai orang orang yang berpikir dengan baik. Berpikir
menunjukkan bahwa kita hidup. Orang yang sudah tidak bisa berpikir,
pada hakikatnya dia sudah `mati’. Dan orang yang sudah mati, tidak
dikenai lagi kewajiban beragama.
Allah mengatakan di dalam QS Al Israa (17) : 36
“Dan janganlah kalian mengikuti apa-apa yang kalian tidak memiliki
ilmunya. Sesungguhnya Pendengaran, Penglihatan dan hati, semua itu
akan diminta Pertanggungjawabannya.”
Artinya kita tidak boleh ikutan-ikutan saja dalam mengerjakan
sesuatu. Itu bisa berbahaya, dan lantas kita sulit untuk
mempertanggung jawabkannya. Harus punya ilmunya, kata Allah. Itu
artinya kita harus banyak-banyak berpikir.
Dan kalau kita membaca Al Quran, betapa banyaknya Allah menyindir
kita dengan kalimat-kalimat : afalaa ta’qiluun (apakah kalian tidak
berakal) afalaa yandzuruuna (Apakah kalian tidak melakukan
observasi), afalayatafakkaruun (apakah kalian tidak berpikir), dan
lain sebagainya.
Berpikir menjadi entry point (pintu masuk) bagi proses pendekatan
kita kepada Allah. Seseorang tidak akan memiliki keimanan yang kuat
kalau tidak melalui proses berpikir. Hal ini sudah ditunjukkan oleh
para nabi besar, seperti Ibrahim, Musa dan Muhammad. Memang, para
nabi itu memperoleh ilmunya tidak lewat berguru, tetapi lewat wahyu
dari Allah, yang langsung masuk ke kalbunya. Akan tetapi, semua itu
selalu didahului dengan sebuah proses berpikir secara total, yang
cukup panjang.
Nabi Ibrahim misalnya lewat proses dialognya dengan alam semesta.
Nabi Musa dengan `bertapa’ di gunung Sinai. Dan nabi Muhammad lewat
proses berkhalwat di gua Hira’. Semua itu adalah proses awal berupa
perenungan-perenungan untuk memperoleh ilmu yang sangat tinggi dan
mendalam. Maka kalau kita ingin memperoleh kedekatan dengan Allah
lakukanlah apa-apa yang telah dialami oleh para nabi besar itu. Atau
dalam konteks ini, jalankanlah apa yang diisyaratkan Allah dalam QS
Ali Imran 190-191 tersebut : selalu berpikir dalam keadaan berdiri,
duduk, dan berbaring…, apa pun aktifitas kita.
5. Tidak Ada Yang Sia-Sia
Orang yang disebut sebagai ‘Ulil Albab’ di dalam wahyu
itu akhirnya memiliki kesimpulan : Rabbanaa maa kbolaqtabaadzaa
baatila , Ya Tuhanku, tidak sia-sia segala yang Engkau ciptakan
ini …
Kapankah seseorang bisa memiliki kesimpulan bahwa segala sesuatu yang
dia pelajari itu tidak sia-sia? Jawabnya hanya satu, yaitu ketika dia
sudah sangat memahami tentang apa yang dia pelajari. Barulah dia bisa
mengatakan bahwa ternyata segala yang dicipta oleh Allah semuanya ada
manfaatnya. Betapa mendalamnya kalimat ini…
Orang yang belum mengerti tentang apa yang dia pelajari dia tidak
akan bisa mengatakan bahwa sesuatu itu bermanfaat alias tidak sia
sia. Jadi, bisakah Anda bayangkan bahwa wahyu Allah tersebut seakan
akan menggambarkan sebuah kurun waktu yang sangat panjang dalam
kehidupan seseorang. Barangkali sepanjang usianya.
Di ayat itu, sang pemikir digambarkan selalu gelisah untuk bisa
bertemu dengan Allah. Karena itu ia selalu berpikir tentang tanda-
tanda kebesaranNya sepanjang hidupnya. Baik, ia sedang berdiri,
duduk, bahkan tidur. Ketika ia sedang susah maupun senang. Ketika
sedang sendiri maupun sedang beramai-ramai. Dan, segala aktivitas
kehidupannya.
Setelah berpuluh-puluh tahun kemudian sebagaimana Ibrahim akhirnya
ia mendapatkan satu kesimpulan bahwa Allah memang Sang Pencipta Yang
Maha Pintar dan Maha Bijaksana. Tak ada satu benda pun yang tidak
bermanfaat di alam semesta ini. Barangkali, kalau aktivitas
berpikirnya itu dibukukan, itu akan menjadi sebuah informasi ilmu
pengetahuan yang hebat dan dahsyat. Kenapa demikian? Ya, karena
kesimpulannya mengatakan bahwa ia sangat paham dengan fakta yang
terserak di alam semesta ini, dan bisa berkata : Tidak sia-sia segala
yang ada …
Begitulah Allah memancing kita untuk mempelajari alam semesta
ciptaanNya. Hasil akhirnya, bukannya sekadar kita puas dengan ilmu
yang kita peroleh, melainkan kita mendapatkan satu kesimpulan
esensial, yaitu lebih mengenal Dzat, Sang Penguasa Semesta.
Saya yakin, bahwa kita masih sering menganggap sesuatu yang terjadi
di sekitar kehidupan kita adalah sia‑sia. Atau
setidak‑tidaknya biasa‑biasa saja. Tidak ada gunanya. Dan
tidak memberikan tanda‑tanda bagi eksistensi serta keterlibatan
Allah.
Ambil saja centoh. Allah mengatakan bahwa Dia tidak merasa malu
menciptakan nyamuk. Apakah kita pernah berpikir bahwa nyamuk adalah
ciptaan Allah yang luar biasa rumit dan memiliki peran dalam
kehidupan kita?
QS Al Baqarah (2) : 26
“Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau
yang lebih rendah dari itu…”
Sampai saat ini tidak ada seorang ahli robot pun yang bisa meniru
membuat nyamuk. Seluruh ilmu pengetahuan sepanjang peradaban manusia
belum cukup untuk digunakan membuat nyamuk. Untuk meniru gerakan
kakinya saja, para ahli robot terkemuka di dunia tidak bisa
menirunya. Apalagi meniru alat penglihatannya, pencernaannya,
sayapnya, instinknya dan seluruh proses metabolisme yang menyebabkan
dia hidup dan berkembang biak.
Belum lagi peran dalam ekosistem kehidupan kita.
Keterlibatannya dengan berbagai macam penyakit, yang lantas
memberikan kontribusi pada kehidupan sosial dan kesehatan manusia.
Seekor nyamuk bisa menghabiskan umur kita untuk memahaminya lewat
sebuah penelitian yang panjang. Dan akhimya kita akan mengatakan
bahwa Allah tidak sia‑sia menciptakan nyamuk dalam kehidupan di
muka bumi ini.
Atau pernahkah kita berpikir tentang lebah? Darimana ia memperoleh
instink untuk ‘memproduksi’ madu yang ternyata bisa menjadi obat itu?
Berapa nilai ekonomi dan kesehatan yang telah dihasilkan oleh
serangga yang hidup bergerombol bersama sang ratu lebah itu.
Bahkan, bukan hanya makhluk berupa binatang atau tumbuhan saia yang
menarik untuk dipikirkan. Kejadian‑kejadian yang melingkupi
kehidupan kita pun tidaklah ada yang sia‑sia. Semuanya
mengandung pelajaran dan hikmah untuk kita ambil sebagai pelajaran
dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Suatu ketika ayah teman saya mengalami kecelakaan sampai meninggal
dunia. Kejadiannya sendiri memang terkesan ‘aneh’. Setiap pagi, dia
selalu berangkat ke toko tempat dia jualan pukul 07.00. Pada hari
itu, entah apa yang menyebabkan dia enggan berangkat pada jam seperti
biasanya. Dia sudah keluar rumah untuk berangkat tetapi ditundanya,
dan dia masuk kembali ke rumah. Sejam kemudian dia baru berangkat.
Dan ketika dia menyeberang jalan menuju ke tokonya, dia tertabrak
mobil. Kemudian meninggal dunia.
Sepintas lalu kita, akan mengatakan bahwa hal itu adalah biasa saja.
Akan tetapi kalau kita cermati, kita lantas bisa
bertanya‑tanya : kenapa dia menunda kebiasaannya pergi pukul
tujuh pagi, sehingga bertepatan dengan mobil yang melintas di jalan
itu, dan kemudian menabraknya. Siapakah yang membuat semua itu
terjadi secara tepat waktu? Apakah semua itu kebetulan? Padahal kalau
kejadian itu berbeda 1 menit saja, kecelakaan itu tidak terjadi.
Rasanya tidak ada yang `kebetulan’ dalam hal ini. Setiap detik telah
diperhitungkan Allah untuk mempertemukan kejadian itu. Kecepatan
langkah sang ayah dan kecepatan mobil penabrak berjalan demikian
akurat, sehingga bertemu di tempat kejadian itu. Meleset sedikit
saja, maka kecelakaan itu tidak akan terjadi.
Maka, dengan beberapa contoh di atas, saya ingin mengatakan bahwa
segala kejadian yang berlangsung di sekitar kita tidak ada yang
kebetulan dan tidak ada yang sia-sia. Semuanya berlangsung dalam
sebuah skenario yang sangat teliti dan ada hikmahnya.
Kita makan, minum, tidur, bekerja, tersandung, kesedak, sakit,
menikah, punya anak, dapat rezeki, dan segala macam aktivitas kita,
tidaklah ada yang kebetulan dan sia-sia. Sekali lagi, semuanya
terjadi dalam frame yang jelas dan dengan tujuan yang jelas pula.
Inilah kira kira Yang bisa kita petik dari penggalan ayat dalam wahyu
tersebut. Pemahaman yang komprehensif terhadap segala yang ada justru
akan membawa kita kepada suatu kesimpulan yang terfokus pada Kekuasan
Allah, sang Maha Perkasa.
6. Maha Suci Allah
Kalimat Subhanallaah di dalam agama Islam dianjurkan
untuk diucapkan ketika kita melihat sesuatu yang mempesona atau
sesuatu yang luar biasa. Maka, ketika sang pemikir mengucapkan
kalimat itu di akhir wahyu tersebut, kita menangkap nuansa bahwa ia
sedang terpesona oleh Keagungan dan Kebesaran Allah.
Situasi ini konsisten dengan kalimat sebelumnya, di atas, di mana ia
mengatakan tidak sia-sia segala yang diciptakan Allah. Kedua duanya
memberikan kesan kepada kita bahwa sang pemikir telah melakukan
sebuah proses berpikir dan pengamatan yang sangat mendalam, sehingga
ia sampai terpesona. Orang yang sekedar berpikir asal-asalan tidak
akan pernah mencapai tingkatan terpesona. Orang hanya bisa terpesona
ketika dia sangat menghayati kenyataan luar biasa yang sedang
dihadapinya … !
Maka, lagi-lagi kita menemukan bahwa wahyu yang diturunkan Allah
kepada nabi Muhammad itu memang memiliki makna yang luar biasa
dahsyatnya, sehingga Rasulullah pun menangis semalaman…
Di dalam Al Quran Allah memberikan banyak gambaran tentang makhluk
yang bertasbih, me Maha Suci kan Allah. Ada suatu kesan yang kuat
bahwa mereka yang me Maha Suci kan Allah itu adalah mereka yang telah
begitu memahami bahwa Allah memang benar-benar Tuhan semesta alam.
QS. Al Israa’ (17) : 44
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih
kepada Allah. Dan tak ada satu pun melainkan bertasbih dengan
memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
Sesungguhnya Dia adalah maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
Kalau kita mencoba mencermati firman di atas, maka kita akan
mengambil kesimpulan bahwa yang disebut tasbih dalam hal ini bukanlah
sekedar mengucapkan Subhanallah. Kenapa demikian? karena
kalimat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa benda-benda
mati pun seperti langit dan bumi, dan segala macam isi alam semesta
ternyata bertasbih kepadaNya.
Tentu kita semua tahu bahwa benda-benda itu tidak bisa berkata kata,
seperti manusia. Termasuk tentu saia mereka tidak bisa mengucapkan
subhanallah. Apalagi lantas Allah memberikan penegasan Pada kalimat
berikutnya, bahwa kita kebanyakan manusia tidak mengerti tasbih
mereka. Karena mereka memiliki caranya sendiri untuk mentasbihkan
Allah.
Yang mengerti tentang tasbih mereka, hanya sebagian kecil saja dari
kita. Termasuk sang ‘Ulil Albab’ yang selalu mencermati dan berpikir
tentang ayat-ayat Allah di alam semesta. Hanya orang-orang semacam
dialah yang mengetahui bahwa alam semesta ini sedang bertasbih kepada
Allah. Sehingga dia pun akhirnya mengucapkan kalimat yang sama : Maha
Suci Engkau ya Allah sebagaimana bagian akhir QS Ali lmran 191.
Di bagian yang lain, Allah juga memberikan gambaran bahwa alam
semesta ini bertasbih bersama orang-orang yang berilmu pengetahuan
seperti nabi Daud dan nabi Sulaiman.
QS. Al Anbiyaa’ (21) : 79
“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum,
dan kepada masing-masing mereka (Daud dan Sulaiman) telah Kami,
berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung gunung dan
burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang
melakukannya.”
Maka, barangkali kita boleh mengambil kesimpulan bahwa hakikat tasbih
yang dimaksudkan oleh Allah di dalam berbagai ayat Quran bukanlah
sekedar berucap Subhanallah, melainkan lebih kepada pengakuan atas ke
Maha Perkasaan Allah, sehingga seluruh isi alam ini tunduk dan patuh
kepadaNya. Kepada hukum alam yang ditegakkanNya. Serta kepada seluruh
sunnatullahNya.
Bagaimana mungkin kita bisa memberikan pengakuan tentang Keperkasaan
Allah tanpa mempelajari dan memahami alam sekitar kita? Tentu saja
sulit, karena pengakuan terhadap Kehebatan Allah hanya bisa muncul
kalau kita melakukan proses pemahaman atas segala ciptaanNya.
Kecuali, Para Nabi yang memperoleh Wahyu dariNya, langsung dimasukkan
ke dalam kalbunya.
Berulang-ulang Allah menceritakan tasbih Para makhlukNya di dalam Al
Quran. Mulai dari para malaikat, langit yang tujuh, hamparan bumi dan
gunung-gunung, burung yang beterbangan, awan yang berarak, hujan dan
salju, pergantian siang dan malam hari, penciptaan binatang-binatang
melata, dan segala macam isi alam semesta ini. Lagi lagi semua itu
menegaskan bahwa `ketaatan’ seluruh isi alam dalam mengikuti
sunnatullah itulah yang menjadi bukti Kemahasucian Allah. 
QS. An Nuur (24) : 41-46
     “Tidakkah kamu tabu bahwasannya Allah, kepadanya bertasbih apa yang
       di langit dan di bumi, dan (juga) burung dengan mengembangkan
       sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembabyang dan
       tasbihnya. Dan Allah Maha Mengetabui apa yang mereka kerjakan.”
     “Dan kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah
       lah semuanya kembali”
     “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian
       mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya
       bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah
       celahnya, dan Allah juga menurunkan es dari langit, dari gunung
       gunung, maka ditimpakanNya es itu kepada siapa yang dikehendakiNya
       dan dibiarkanNya dari siapa yang dikehendakiNya. Kilatan awan itu
       hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”
     “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang
      demikian itu terdapat pelajaran yang benar bagi orang-orang yang
      mempunyai penglihatan.”
     “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka
       sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya, dan
       sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian yang lain berjalan
      dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya,
      sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
     “Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan
      Allah memimpin siapa yang dikebendakiNya kepada jalan yang lurus.”
Seluruh benda mati di alam semesta ini dengan sendirinya sudah
mengakui ke Maha Sucian Allah, karena eksistensi mereka seluruhnya
telah mengikuti hukum alam alias sunnatullah. Termasuk seluruh bagian
dan organ dalam tubuh kita. Detak jantung kita, nafas dan paru kita,
ginjal dan hepar, pencernaan, otak, saraf, dan seluruh sel-sel serta
miliaran molekul dan atom di dalam tubuh kita, semuanya telah
bertasbih kepada Allah.
Lantas, kenapa kita masih ‘dituntun’ oleh Allah untuk bertasbih
kepadaNya? ya, karena jiwa kita telah terkungkung dalam badan
kemanusiaan yang serba terbatas dan berkutub dua: yaitu `kemuliaan’
dan’hawa nafsu’. Kesadaran kita terus bergerak di antara dua/ kutub itu.
Ketika, kesadaran kita meningkat kepada ‘kemuliaan’,
maka kita lantas bisa ‘melihat kenyataan, kehidupan yang
sesungguhnya. Sebaliknya. kalau’kesadaran’kita menurun menuju kepada
hawa nafsu, maka kita lantas kehilangan’penglihatan kita untuk
melihat kehidupan yang sesungguhnya.
Dalam sudut pandang yang lain, kita bisa mengatakan bahwa tubuh
manusia ini menyebabkan kernampuan kita serba terbatas. Padahal kita
sebenarnya memiliki potensial ruh yang serba’tidak terbatas’, karena
ruh adalah potensi Itahiah. Maka ketika kita terlalu mernanjakan
pernenuhan kebutuhan raga saia, seperti makan, minum, harta,
seksualitas, kekuasaan, dan sebagainya, kita akan tetjebak kepada
hawa nafsu.
Sebaliknya, kalau kita bisa memandang bahwa kebutuhan raga itu
hanyalah sebuah ‘perantara’ saja dan kebutuhan ruh adalah yang utama.
maka kita akan mencapai deraiat kemuliaan, dalarn hidup yang
sesungguhnya.
Disinilah, karena potensi ruh kita telah terkungkung dalarn
eksistensi kernanusiaan kita, maka kualitas kesadaran kita bisa naik
turun antara Kernuliaan dan hawa nafsu yang membawa pada Kehinaan.
Sehingga , lantas Allah mengingatkan kepada kita bahwa Kesadaran ruh
harus terus ditingkatkan.
Caranya adalah dengan terus menerus menghubungkan ‘kesadaran’ ruh
kita dengan Sang Maha Pencipta. Akhirnya, diharapkan kita bisa
memperoleh sebuah ‘kesadaran semesta’ bahwa segala eksistensi ini
sebenarnya adalah kecil yang besar dan penting hanya Allah saja …
7. Hindarkan Kami Dari Siksa Api Neraka
Dan kalimat yang terakhir dari wahyu itu adalah permohonan untuk
dihindarkan dari siksa api neraka. Kenapa sang Pemikir ‑ yang
dijadikan tokoh dalam wahyu itu ‑ melakukan permohonan
tersebut? Saya menangkap kesan bahwa dia telah mengakui kebodohannya
selama ini, yang tidak bisa memahami keluar biasaan tanda‑tanda
Kebesaran Allah yang ada di sekitarnya. la sangat menyesalinya …
Betapa tidak, hamparan kekuasaan Allah demikian nyata di hadapannya,
namun selama ini ia tidak mampu menangkapnya. Ini bagaikan sebuah
sindiran kepada kita semua, bahwa kebanyakan kita tidak memiliki
kepekaan untuk menangkap tanda‑tanda Kebesaran Allah itu. Maka,
Rasulullah pun merasa malu atas sindiran Allah itu, sehingga beliau
menangis semalaman.
Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita bisa menangis membaca firman
Allah itu? Atau, setidak-tidaknya bergetarkah hati kita? Kalau tidak,
maka ini bagaikan sebuah sindiran untuk kita. Allah mengatakan bahwa
orang‑orang yang beriman itu ciri‑cirinya adalah hatinya
gampang bergetar ketika disebut nama Allah.
       QS‑ Al Anfal (8) : 2
         “Sesungguhnya orang‑orang yang beriman itu adalah mereka yang
           jika disebut nama Allah, hati mereka bergetar, dan apabila dibacakan
           kepada mereka ayat‑ayatNya: bertambahlah iman mereka, dan
           kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”
Dari sisi lainnya, kita juga memperoleh kesan bahwa orang orang yang
tidak bisa menangkap, sindiran Allah dalam wahyu itu akan
terkena `adzab neraka’. Karena itu, sang tokoh di dalam ayat tersebut
berdoa kepada Allah untuk dihindarkan dari api neraka. Sebaliknya,
orang-orang yang bisa memetik pelajaran dari wahyu tersebut akan
bisa, terhindar dari api neraka.
Kenapa orang-orang yang tidak bisa memetik pelajaran akan terkena
azab neraka? Karena, sesungguhnya dia tidak bisa memahami hakikat
beragama Islam. Apa hakikatnya? Sesuai dengan ringkasan ayat
tersebut, bahwa mereka yang bisa tehindar dari api neraka adalah
orang orang `tidak mati’ hatinya sepanjang hidupnya.
Karena Allah berulangkali mengatakan di dalam firmanNya, betapa 
banyaknya manusia yang sudah `mati’ justru ketika dia masih hidup.
Hatinya tidak digunakan untuk memahami pelajaran dari proses
kehidupan yang dijalaninya.
        QS. Al A’raaf (7): 179
         “Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari
           jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk
           memahami (ayat ayat Allah), dan mereka mempunyai mata tidak digunakan
           untuk melihat (tanda tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai
           telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar (ayat ayat Allah).
           Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka
           itulah orang-orang yang lalai.”
Maka orang-orang yang demikian ini, seperti orang yang tidak tahu
jalan kemana mereka sedang menuju. Lantas, kehidupannya tidak ditata
dengan strategi yang baik, sesuai dengan tujuan jangka panjangnya.
Sehingga, kalau demikian keadaannya, mereka sangat gampang terjebak
dalam kehidupan duniawi yang serba semu. Dianggapnya segala
kenikmatan dunia ini adalah tujuan akhir dari kehidupannya. Padahal,
kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Di dunia ini, kita
hanya hidup dalam kurun waktu puluhan tahun saja. Tetapi di akhirat
nanti kita akan hidup dalam kurun waktu tak terhingga. Hidup di
dunia, justru untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk bekal hidup di
akhirat nanti.
Bahkan, di dalam ayat di atas Allah menggunakan sindiran yang
agak ‘keras’ tetapi realistis. Bahwa mereka yang tidak bisa mengambil
pelajaran dari sekitarnya bagaikan binatang ternak, yang memang tidak
berakal. Hidup mereka mengelinding saja, apa adanya, tanpa tujuan
yang jelas. Apalagi untuk selalu meningkatkan kualitas dari hari ke
hari seperti di ajarkan Rasulullah.

           Jadi, dengan diskusi kita yang serba ringkas ini, saya harap kita
memperoleh pemahaman yang memadai terhadap beberapa kata kunci di
dalam wahyu tersebut. Sehingga kita lantas bisa mengerti kenapa
Rasulullah menangis sedemikian rupa sepanjang malam, ketika wahyu itu
turun kepada beliau.
Harapannya adalah, hal ini bisa terjadi juga kepada kita. Caranya
adalah dengan berusaha, untuk lebih memahami dan menghayati makna
ayat tersebut secara mendalam sehingga kita bisa merasakan hati kita
bergetar getar ketika membacanya. Dan syukur, jika sampai melelehkan
air mata, karena merasakan kedekatan, yang luar biasa dengan Allah
Azza wa Jalla

Tidak ada komentar:

Posting Komentar