Kamis, 23 Mei 2019

RASUL MENANGIS KETIKA MENERIMA WAHYU TENTANG ILMU PENGETAHUAN

BAG 1

Tidak Pernah Rasulullah, saw menangis sehebat itu. Bahkan
ketika kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya. Ataupun ketika
beliau mengalami tekanan-tekanan yang sangat berat dari kaum kafir
yang menentangnya. 
Tangisan Rasulullah yang berlangsung semalaman itu
terjadi sesaat setelah beliau menerima wahyu dari Allah, Sang Maha
Berilmu, Ali lmran 190 – 191:
          “Sesungguhnya di dalam Penciptaan langit dan bumi dan di dalam
            pergantian siang dan malam hari terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah
            bagi (orang yang disebut) ulil albab. Yaitu orang-orang yang selalu
            ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring dan ia
            selalu berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Kemudian dia
            mengatakan : ya Tuhanku tidak ada yang sia-sia segala yang Kau
            ciptakan ini. Maha Suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksa api
            neraka.”
Bagaimanakah kejadian itu berlangsung? Diceritakan, suatu ketika
Sayyidina Bilal seperti biasa mengumandangkan adzan Subuh. Biasanya, sebelum
adzan Subuh itu selesai, Rasulullah sudah berada di dalam masjid
untuk kemudian memimpin shalat berjamaah bersama para sahabat. Namun,
tidak seperti biasa, Rasulullah Muhammad belum juga hadir meskipun
Bilal sudah menyelesaikan kalimat terakhir adzannya. Ditunggu
beberapa saat oleh Sayyidina Bilal dan para sahabat, Rasulullah tidak juga
muncul di masjid. Akhirnya, karena khawatir terjadi sesuatu, maka
Bilal pun memutuskan menjemput nabi, Yang rumahnya bersebelahan
dengan masjid tersebut.
Pintu bilik rumah nabi diketuk-ketuk oleh Sayyidina Bilal sambil mengucapkan
salam. Tidak langsung ada jawaban dari dalam bilik. Namun, sejurus
kemudian, nabi muncul sambil menjawab salam. Dan kemudian
mempersilakan Bilal masuk.
Apakah Yang dilihat oleh Sayyidina Bilal? la melihat nabi dalam keadaan yang
sangat mengharukan. Air mata berlinangan di pipi beliau. Matanya
sembab, menunjukkan betapa beliau telah menangis cukup lama, semalam.
Karena khawatir melihat kondisi nabi, maka Sayyidina Bilal pun bertanya kepada
beliau. Ada apakah gerangan, sehingga Rasulullah menangis seperti
itu. Apakah nabi sakit. Ataukah nabi ditegur oleh Allah? Ataukah ada
kejadian hebat lainnya? Maka, Rasulullah menjawab, bahwa beliau
semalam telah menerima wahyu dari Allah. Lantas beliau membacakan QS.
Ali Imran : 190 – 191, tersebut di atas.
Sayyidina Bilal pada saat itu barangkali tidak
bisa mengerti dan tidak habis pikir, kenapa Rasulullah bisa menangis
sehebat itu ketika menerima wahyu tersebut. Ini tidak pernah terjadi
sebelumnya. Apalagi, kalau kita baca Firman Allah itu tidak bernada
menegur, atau memerintah untuk menjalankan kewajiban tertentu,
misalnya.
Ayat tersebut, lebih menonjolkan kesan ilmu pengetahuan dan sikap
seorang ilmuwan dalam memahami fenomena alam semesta ketimbang sebuah
perintah untuk beribadah. Tetapi kenapa hati sang nabi sampai
bergetar demikian rupa, sehingga tak mampu membendung air matanya?
Marilah kita coba mencermati :
Di awal ayat itu, Allah mengatakan bahwa sesungguhnya di dalam
penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam hari,
terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang disebut ulil
albab. Yaitu, lanjutnya orang-orang yang selalu berpikir, baik dalam
keadaan duduk, berdiri, bahkan berbaring pun masih selalu teringat
kepada Allah dan segala ciptaanNya. Sampai ia mendapatkan suatu
kesimpulan akhir, bahwa segala ciptaan Allah di alam semesta ini
tidak ada yang sia sia…
Ada beberapa kata kunci Yang bisa menuntun penafsiran kita dan
kemudian memahami kenapa Rasulullah sampai menangis seperti itu,
yaitu:
1. Penciptaan langit dan bumi
2. Pergantian siang dan malam hari
3 Tanda-tanda kebesaran Allah
4. Selalu berpikir tentang Allah
5. Tidak ada yang sia-sia
6. Maha Suci Allah
7. Hindarkan dari Api Neraka.


1. Penciptaan Langit Dan Bumi.
Apakah kehebatan penciptaan langit dan bumi ini sehingga
Rasulullah menangisinya? Kenapa Allah memancing kita untuk mengamati
dan memahami penciptaan langit dan bumi? Dan pernahkah kita
terpancing untuk melakukannya? Kalau tidak, sungguh sayang sekali…
Sebenarnya Allah sedang memberikan jalan Yang luas dan lebar kepada
hambaNya Yang ingin memahami dan berkenalan dengan Allah Sang Maha
Pencipta. Bukankah Allah mengatakan, kalau kita ingin mengenali
Allah, maka kenalilah ciptaanNya. Dan, ciptaan Allah yang bernama
Langit dan Bumi ini ternyata sangatlah dahsyat, sehingga bisa
menghantarkan kita untuk ‘bertemu’ dan menghayati Kebesaran Allah.
Bagaimana cara kita memahami proses penciptaan langit dan bumi itu.
Bisakah hanya berdasarkan informasi-informasi dari Al Quran saja?
Agaknya tidak bisa. Setidak-tidaknya kurang memuaskan. Mau tidak mau,
kita harus melakukan pengamatan-pengamatan yang lebih mendalam
tentang fakta yang tersebar di alam semesta ini. Harus bersifat
empirik.
Namun, tidak semua kita memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian
ilmiah. Maka kita boleh membaca data-data dan analisis ilmu
pengetahuan Astronomi yang sudah dilakukan oleh para ilmuwan agar
bisa memahaminya. Semua data itu bisa diuji dan dibuktikan, meskipun
pada gilirannya nanti tetap ada bagian-bagian yang harus
disempurnakan secara ilmiah oleh generasi berikutnya. Tidak apa apa.
Tidak menjadi masalah.
Akan tetapi, sebelum membahas tentang penciptaan langit dan bumi,
terlebih dahulu saya ingin mengajak pembaca untuk memahami posisi
kita di alam semesta yang sangat luas ini.
Seperti kita ketahui, lebih dari 5 miliar manusia hidup di sebuah
planet yang bernama Bumi. Bentuknya hampir bulat. Agak pipih di
bagian atas yang disebut sebagai Kutub Utara dan juga bagian bawah
yang disebut Kutub Selatan. Bumi yang kita tumpangi bersama ini
berputar kencang pada dirinya sendiri, dengan kecepatan sekitar 1.669
km per jam, di Equatornya. Namun kita tidak merasakannya, karena kita
ikut berputar dalam sebuah kendaraan ‘Bumi’ yang sangat besar. Kita,
bagaikan sedang berada di dalam sebuah pesawat angkasa luar yang
berpusing.
Selain itu, Bumi juga mengitari matahari pada jarak sekitar 150 juta
km, dengan kecepatan lebih dari 107.000 km per jam. Artinya,
kendaraan angkasa luar kita yang bernama ‘Bumi’ ini sedang melaju,
melesat mengembara di angkasa mengitari matahari.
Apa Yang menggerakkan bumi kita ini sehingga terus-menerus bergerak
berputar pada dirinya sendiri, sekaligus mengitari matahari?
Ternyata, ada sebuah gaya tarik yang sangat dahsyat yang terjadi
antara matahari dan bumi, serta benda-benda langit lainnya. Mereka
seperti terikat oleh sebuah tali yang tidak tampak, yang diputar-
putar melingkar terpusat pada matahari. Pusatnya matahari, di
sekelilingnya ada 9 planet, yaitu : Merkurius, Venus, Bumi, Mars,
Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Semuanya mengelilingi
Matahari, sebagaimana Bumi.
QS. Luqman (31) : 10
“Dia telah menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kalian lihat,
dan dia meletakkan gunung-gunung di bumi supaya bumi tidak Meng-
guncangkan kamu dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis
binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami
tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”
Di planet Merkurius, yang paling dekat dengan Matahari tidak terdapat
kehidupan, karena permukaan planetnya demikian panasnya. Bagaikan
membara. Sedangkan di Pluto, yang terjauh dari Bumi, juga tidak
terdapat kehidupan karena seluruh permukaan planetnya membeku,
tertutup oleh es. Namun demikian, di planet-planet selain Bumi juga
belum diketemukan kehidupan secara pasti. Apalagi manusia. Hanya di
Bumi inilah makhluk yang bernama manusia ini bisa melangsungkan
kehidupannya dengan baik. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat
dengan Matahari sebagai sumber energi kehidupan.
Kelompok 9 planet yang berpusatkan Matahari itu dinamakan Tatasurya.
Ternyata, tatasurya kita ini bukanlah satu satunya tatasurya di alam.
semesta. Ada miliaran, bahkan triliunan tatasurya yang terserak di
jagad semesta.
Kalau kita ingin mengetahui lebih lanjut, cobalah keluar rumah malam
hari. Di tempat yang terbuka dan sedikit gelap arahkan pandangan ke
langit. Kalau langit sedang cerah, kita akan bisa melihat bintang-
bintang bertaburan di angkasa raya.
Pernahkah kita bayangkan bahwa bintang-bintang itu sebenarnya adalah
matahari, seperti matahari yang kita miliki di tatasurya kita. Karena
begitu jauhnya jarak Matahari, itu dengan Bumi kita, maka ia
kelihatan sangat kecil dan berkedip-kedip. Tapi, sesungguhnya bintang
itu adalah matahari. Bahkan banyak yang ukurannya jauh lebih besar
dari matahari kita.
Matahari Yang kita miliki ini, diameternya sekitar 200 kali bumi.
Isinya adalah gas Hidrogen yang sedang bereaksi secara termonuklir
menjadi gas Helium. Sedangkan bintang-bintang itu ada yang besarnya
berpuluh kali atau beratus kali dibandingkan dengan besarnya matahari
kita. Yang paling besar diketemukan oleh ilmuwan Astronomi adalah
bintang Mu-cepe, yaitu sekitar 1.500 kali matahari, alias ratusan
ribu kali besarnya bumi yang kita diami!
Begitu besar ukurannya. Tetapi kelihatan demikian kecilnya. Ya, semua
itu karena jarak bintang-bintang itu sangat jauh dari bumi. Berapakah
jarak bintang yang paling dekat dengan bumi? Informasi Astronomi
mengatakan, jaraknya sekitar 8 tahun cahaya. Apakah artinya? Artinya,
cahaya saja membutuhkan waktu tempuh 8 tahun untuk menuju bintang
yang paling dekat itu. Jadi berapa kilometer ? Tinggal hitung saja.
Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik. Jadi kalau cahaya
membutuhkan waktu 8 tahun untuk sampai ke bintang itu, berarti
jaraknya adalah 8 th x 365 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik x
300.000 km = 75.686.400.000.000 km atau sekitar 75 triliun kilometer.
Sungguh jarak yang tidak pernah terbayangkan dalam kehidupan kita!
Bisakah kita pergi ke sana? Di atas kertas, mungkin saja. Tetapi,
memakan waktu berapa lama? Marilah kita hitung. Semuanya bergantung
pesawat yang kita gunakan. Andaikan saja kita naik pesawat, ulang
alik seperti Challenger atau Columbia Ya berkecepatan 20 ribu km per
jam. Berapa lama kita akan sampai di bintang tersebut?
Sehari, sebulan, setahun, sepuluh tahun, seratus tahun.
Kita mati di tengah jalan, ternyata kita belum sampai di bintang yang
paling dekat itu. Setelah 428 tahun kemudian, barulah kita sampai di
sana. Kita membutuhkan 5 – 6 generasi untuk sampai di sana.
Subbanallaah…
Padahal, tadi saya katakan, jumlah bintang di alam semesta ini
triliunan. Setiap 100 miliar bintang membentuk gugusan yang disebut
galaksi. Gugusan bintang yang kita tempati ini bernama galaksi
Bimasakti. Di sebelah Bimasakti ada galaksi Andromeda, dan
seterusnya, ada miliaran galaksi di jagad semesta ini. Dan, yang
lebih dahsyat lagi, setiap 100 miliar galaksi membentuk gugusan
galaksi yang disebut Superkluster. Dan seterusnya, jagad semesta ini
belum diketahui batasnya.
Berapakah jarak gugusan bintang bintang itu? Bermacam macam. Ada yang
berjarak 100 tahun cahaya. Artinya cahaya saja membutuhkan waktu 100
tahun. Ada yang 1000 tahun cahaya. Ada juga yang 1 juta tahun cahaya.
Dan yang paling jauh, diketemukan oleh ilmuwan Jepang, berjarak 10
miliar tahun cahaya.
Ya, cahaya saja membutuhkan waktu 10 miliar tahun. Apalagi kita. Usia
kita tidak ada artinya apa-apa dibandingkan kebesaran alam semesta
ini.
Bahkan planet bumi yang kita tinggali bersama miliaran manusia ini
juga tidak ada apa-apanya. Bumi bagaikan sebuah debu di hamparan
Jagad `Padang Pasir’ Semesta. Di atas bumi yang bagaikan debu itulah
miliaran manusia hidup dengan segala aktifitas dan kesombongannya!
Masya Allah, sungguh begitu kecil kita, dan luar biasa dahsyat Sang
Maha Perkasa…
Lantas bagaimana kita membayangkan Keperkasaan Allah yang menciptakan
hamparan jagad semesta itu? Disinilah Allah memperkenalkan Dirinya
lewat ciptaanNya yang benama Langit dan Bumi. Dan kita dipancingNya
untuk memahami itu lewat firmanNya di QS. Ali Imran 190 191.
Ada lagi yang sangat unik ketika kita mengamati bintang bintang di
angkasa. Sebagaimana telah saya sampaikan di muka, bahwa bintang-
bintang yang bertaburan itu jaraknya sangat beragam, mulai dari
matahari yang jaraknya 8 menit cahaya, bintang yang berjarak 8 tahun
cahaya, sampai yang berjarak 10 miliar tahun cahaya.
Pernahkah Anda bayangkan, bahwa matahari yang kita lihat setiap pagi
itu adalah matahari 8 menit yang lalu? Bukan matahari yang sekarang!
Kenapa demikian? Ya, karena sinar matahari memerlukan waktu 8 menit
untuk mencapai bumi, yang berjarak 150 juta km dari matahari.
Berarti, matahari yang kita lihat pada saat itu adalah matahari 8
menit yang lalu! Aneh bukan?
Begitu juga ketika kita melihat kepada bintang yang berjarak 8 tahun
cahaya. Bintang yang sedang kita amati itu bukanlah bintang saat ini,
melainkan bintang pada saat 8 tahun yang lalu. Karena, sinar yang
sampai di mata kita itu adalah sinar yang sudah melakukan perjalanan
sejauh 8 tahun cahaya. Bukankah sinar butuh waktu untuk menempuh
jarak?
Tidak berbeda dengan bintang-bintang yang berjarak lebih jauh lagi.
Kalau kita sedang mengamati bintang berjarak 100 juta tahun cahaya,
maka sebenarnya bintang yang sedang kita amati itu adalah kondisi 100
juta tahun yang lalu!
Jadi, kalau malam-malam kita sedang mengamati langit, sebenarnya kita
bukan melihat langit yang sekarang saja. Tetapi pada saat yang
bersamaan sedang melihat langit sekarang, langit 1000 tahun yang
lalu, langit 1 juta tahun yang lalu, dan bahkan langit 10 Miliar
tahun yang lalu … ! Masya Allah, kita jadi merasa aneh dengan alam
kita sendiri.
Lebih jauh, kalau kita ingin memahami kedahsyatan ciptaan Allah di
alam semesta, marilah kita baca ayat berikut ini.
QS. Al Anbiyaa 30,
“Apakah orang-orang kafir itu tidak tahu bahwa langit dan bumi itu
dulunya padu, lalu Kami pisahkan keduanya dengan kekuatan, dan Kami
jadikan dari air setiap yang hidup, apakah mereka tidak percaya?”
Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa alam semesta yang
luar biasa besarnya itu dulunya satu, alias berimpit. Dikatakan bahwa
langit yang berupa ruang angkasa dan bumi itu pernah tidak
terpisahkan. Lantas, pada suatu ketika Allah memisahkan keduanya
dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Sehingga jadilah alam semesta
seperti yang kita lihat sekarang.
Tetapi, sekali lagi, pemahaman yang baik baru bisa kita peroleh kalau
kita melakukan pengamatan terhadap alam semesta dalam kegiatan
empiris atau ilmu pengetahuan. Baik secara langsung maupun lewat
informasi Astronomi.
Bagaimana mungkin kita bisa memahami bahwa langit dan bumi itu
dulunya padu, kalau kita tidak mempelajari ilmu Astronomi. Firman
Allah ini ternyata memang bisa kita pahami setelah kita membaca teori
Big Bang alias teori `Ledakan Besar’.
Dalam teori tentang penciptaan alam semesta itu dikatakan bahwa
langit dan bumi itu memang dulunya padu. Bagaimana kesimpulan itu
diperoleh? Ternyata, dalam pengamatan teleskop Hubble, diketahui
bahwa berbagai benda langit seperti planet, matahari, dan bintang-
bintang semuanya sedang bergerak menjauh.
Kita melihat ke atas, benda-benda langit menjauh. Melihat ke `bawah’
di balik bumi benda-benda langit tersebut juga menjauh. Melihat ke
kiri kanan, muka belakang, semua benda langit sedang menjauh. Apakah
artinya?
Artinya, karena benda-benda langit itu kini sedang bergerak saling
menjauhi ke segala arah, maka mestinya dulu, benda benda itu saling
dekat. Lebih dulu lagi, benda-benda itu semakin dekat. Dan pada suatu
ketika, miliaran tahun yang lalu, semua benda langit tersebut
berkumpul di suatu titik yang sama, alias padu dan berimpit. Persis
seperti yang dikatakan Al Quran.
Nah, dari hipotesa itulah, disusun sebuah teori yang disebut
teori `Big Bang’. Teori itu mengatakan bahwa seluruh material dan
energi alam semesta ini dulunya termampatkan ke dalam suatu `Titik’
di pusat alam semesta. Demikian Pula ruang dan waktu, semuanya
dikompres ke dalam sebuah `Titik’ yang menjadi cikal bakal alam
semesta, yang disebut sebagai Sop Kosmos.
Sop Kosmos itu, sangat tidak stabil karena mengandung energi,
material, ruang, dan waktu yang demikian besarnya, sehingga akhimya
meledak dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Ledakan itu telah
melontarkan material, energi, ruang dan waktu ke segala penjuru alam
semesta hingga kini. Usianya sudah mencapai sekitar 12 miliar tahun.
Dalam kurun waktu sekitar 12 miliar tahun itulah tercipta benda benda
langit secara berangsur-angsur. Mulai dari gugusan bintang bintang,
matahari, planet-planet, dan bulan. Termasuk Bumi yang kita huni ini.
Dipekirakan usia Bumi kita sekitar 5 miliar tahun.
Dan kemudian, di bumi yang semakin mendingin itu diciptakanlah
kehidupan lewat sebuah proses evolusi kehidupan dari makhluk yang
berderajat rendah satu sel sampai yang berderajat tinggi seperti
manusia. Kehidupan pertama, oleh Allah dimulai dari perairan dari
jenis ikan-ikanan, yang kemudian beralih ke daratan lewat proses
kehidupan ampibi dan jenis hewan reptilia.
QS. Al Anbiyaa : 30
“…dan Kami jadikan dari air (permulaan) semua makhluk bidup …”
Sedangkan kehidupan manusia modern diperkirakan baru sekitar 50 ribu
tahun yang lalu, berdasarkan fosil Cro Magnon yang ditemukan di
daerah Timur Tengah. Fosil-fosil manusia modem inilah yang
diperkirakan sejaman dengan kehidupan Nabi Adam As.
Kalau hipotesa ini memang benar, maka berarti usia kehidupan manusia
ini dibandingakn dengan usia alam semesta sangatlah sebentar. Usia
alam semesta sudah sekitar 12 miliar tahun, sedangkan usia peradaban
manusia baru sekitar 50 ribu tahun.
Nah, jadi kembali kepada kata kunci yang pertama dalam QS. Ali Imran
190-191, kita kini memahami betapa dahsyat informasi yang terkandung
dalam kalimat: “…inna fii khalqis samaawaati wal ardli…”
Rasulullah saw bisa memahami makna kalimat tersebut tanpa harus
belajar ilmu Astronomi. Kenapa bisa demikian? Ada dua hal yang
menjadi penyebabnya. yang pertama, setiap kali Allah menurunkan wahyu
kepada nabi Muhammad, Allah langsung memasukkan makna wahyu itu ke
dalam kalbu beliau. Wahyu tidak turun ke nabi melalui otak beliau,
melainkan langsung ke dalam hati. Jadi, seperti ada sebuah tayangan
video yang diputar di hadapan beliau, sehingga beliau langsung bisa
memahami seluruh makna wahyu itu. yang kedua, harus diingat bahwa
wahyu tersebut turun kepada Rasulullah pada periode Madinah. Artinya,
Rasulullah sudah mengalami perjalanan Isra’ Mi’raj. Jadi beliau telah
mengalami sendiri perjalanan mengarungi jagad semesta. Maka, ketika
menerima wahyu tersebut beliau bagaikan sedang ‘bernostalgia’
melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Sungguh tergambar secara nyata
makna dari firman Allah tentang penciptaan langit dan bumi.
Maka tidak heranlah kita, Rasulullah tak mampu membendung air matanya
ketika menerima wahyu tersebut. Gemetar seluruh jiwa raganya
mengingat Kebesaran Allah di alam semesta. Dirinya menjadi begitu
kecil dan tak berarti di hadapan Allah, Dzat Sang Maha Perkasa…
                                                                                                                                BERSAMBUNG....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar